Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca menghadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperoleh ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
File Created by : Heksa
lakukanlah yang terbaik ! Motivasi Diri dengan Percaya Diri, Menjadi Diri Kita Sendiri. Jangan Biarkan Diri Anda Tenggelam Dalam Kesulitan Hidup. Keinginan adalah sumber penderitaan Tempatnya didalam pikiran Tujuan bukan utama Yang utama adalah prosesnya.
Jumat, 11 September 2009
MENATA HIDUP SETELAH TRAUMA
Apa itu trauma? Apa reaksi orang yang mengalami trauma? Apakah reaksi seorang dan yang lain sama? Sejauh mana orang dapat hidup normal kembali setelah trauma? Beberapa pertanyaan mendasar ini diulas secara singkat dan sederhana dalam tulisan ini.
Banyak orang menyebut dirinya mengalami trauma. Setelah mengalami kecelakaan jadi tidak berani lagi menyetir karena trauma. Atau putus cinta, lalu trauma dan tidak berani menjalin hubungan serius lagi. Sebenarnya apa arti trauma?
Secara sederhana trauma bermakna luka atau kekagetan (shock). Dalam artian psikologis trauma mengacu pada pengalaman-pengalaman emosional yang mengejutkan, menyakitkan dan membawa dampak serius, tidak jarang untuk jangka waktu lama.
Kematian anggota keluarga secara mendadak, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, mengalami perkosaan, terbakarnya rumah tinggal, atau peristiwa ledakan bom di JW Marriott, misalnya, semua ini dapat menjadi contoh kejadian-kejadian yang sama sekali tak terduga, tak terbayangkan akan terjadi, sangat mengagetkan dan menyakitkan.
Mengapa reaksi orang berbeda-beda menghadapi trauma? Ada pembalap yang setelah mengalami kecelakaan langsung terjun lagi berlomba begitu sembuh. Tetapi banyak juga yang kemudian jadi demikian takut: jangankan akan menyetir lagi, melihat mobil berjalan cepat saja dada berdebar-debar, bahkan ada yang jadi sulit tidur.
Trauma adalah kejadian tak disangka-sangka, seringkali bukan saja mengejutkan tetapi juga sangat mengancam rasa aman. Karenanya, menyusul suatu kejadian traumatik, misalnya mengalami kecelakaan, rumah terbakar, atau jatuh dari jembatan, wajar bila untuk sementara waktu kita kemudian mengalami masalah-masalah penyesuaian diri. Trauma mengguncang keseimbangan tubuh dan jiwa, mendesakkan diri dalam ingatan, menyebabkan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi sehari-hari, pengalaman-pengalaman bahagia dan menyenangkan, kejadian-kejadian biasa yang sesungguhnya mengisi kehidupan kita selama puluhan tahun, terpinggirkan dan seolah jadi tak penting. Yang menguasai ingatan dan pikiran, untuk sementara waktu, adalah peristiwa traumatis itu. Peristiwa itu jadi seperti adegan film yang tanpa kita kehendaki seenaknya berputar-putar sendiri kapan ia mau.
Ketika melewati daerah dimana kita pernah mengalami perampokan, atau melihat gedung-gedung berkaca yang mengingatkan kita akan berhamburannya kaca-kaca yang pecah akibat ledakan bom, peristiwa yang pernah terjadi tiba-tiba seperti terulang kembali: tubuh dan jiwa kita kemudian bereaksi. Dada tiba-tiba berdegup sangat kencang, seluruh tubuh lemas, keringat dingin membasahi, kita bahkan bisa sesak nafas dan kemudian pingsan. Secara psikologis kita dapat mengalami serangan panik, tak mampu berpikir, dilanda kecemasan kuat, dan lain sebagainya.
Jadi, hal itu adalah respon wajar menyusul kejadian yang sangat tidak wajar. Adalah normal menghayati hal-hal di atas segera, dan beberapa lama setelah kejadian. Siapapun orangnya, sehebat apapun dia, biasanya akan menunjukkan respon-respon demikian dalam intensitas tertentu, setelah kejadian traumatis.
Tetapi mengapa dampaknya berbeda-beda pada tiap orang? Mengapa sepertinya ada juga yang tidak terpengaruh, misalnya dalam contoh pembalap yang tidak kapok membalap?
Perbedaannya mungkin berawal dari kenyataan, bahwa yang traumatis bagi satu orang dan orang lain berbeda. Untuk orang yang selalu dilindungi dan dimanja keluarganya, suatu bentakan dapat menjadi peristiwa sangat mengejutkan dan menakutkan. Untuk yang lain, perkelahian menjadi kegiatan sehari-hari, bahkan dapat menjadi hiburan di tengah kebosanan. Bagi seorang pembalap kegiatan berlomba balap mungkin telah demikian menyatu dalam jiwa, menjadi aktivitas yang sentral dan memaknai hidupnya. Karena membalap adalah pilihan hidupnya, kecelakaan saat membalap telah diantisipasi dan tidak perlu menjadi suatu peristiwa traumatis.
Meski demikian, bila kejadian memang dihayati sebagai traumatis, dalam artian tak disangka, menyakitkan dan mengguncang, dalam jangka waktu tertentu biasanya ada respon-respon umum yang muncul, yakni sebagian atau beberapa hal-hal berikut:
* Ingatan atau bayangan mencengkeram tentang trauma, atau merasa seperti kejadian terjadi kembali ("Flashbacks")
* Respon-respon fisik seperti dada berdebar, munculnya keringat dingin, lemas tubuh atau sesak nafas saat teringat atau berada dalam situasi yang mengingatkan pada kejadian
* Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
* Mudah terbangkitkan ingatannya bila ada stimulus atau rangsang yang berasosiasi dengan trauma (lokasi, kemiripan fisik atau suasana, suara dan bau, dan sebagainya).
Pada beberapa orang dapat terjadi:
* Mimpi buruk, gangguan tidur
* Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan
* Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
* Kesulitan mengendalikan emosi atau perasaan, misalnya menjadi sensitif, cepat marah, tidak sabar
* Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.
Barangkali intensitasnya saja yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain: ada yang menjadi waspada dan takut sangat berlebihan, sehingga bahkan keluar rumah pun tidak bersedia, ada pula yang meski cemas tetap dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Ada yang mampu cepat keluar dari trauma, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama.
Kapan suatu respon dianggap tidak lagi wajar? Kapan kita harus mulai waspada bahwa peristiwa traumatis telah berdampak buruk dan mengganggu kesehatan mental?
Biasanya, respon-respon yang disebutkan di atas akan berkurang intensitasnya sejalan dengan berlalunya waktu. Bila setelah jangka waktu lama misalnya sebulan atau lebih individu tetap menunjukkan kewaspadaan berlebih, dicekam oleh mimpi-mimpi buruk, kehilangan kendali, apalagi menunjukkan perubahan perilaku (misal: menjadi sangat penakut, menghindar dari semua hal yang mengingatkannya pada kejadian), individu ini mungkin perlu meminta bantuan profesional khusus untuk memfasilitasi pemulihan.
Bagaimana menanggulangi serangan panik, seperti dada yang tiba-tiba berdebar-debar kencang, rasa takut dan mudah sekali terkejut? Hidup menjadi sangat terganggu karenanya. Kita sulit berkonsentrasi, dan jadi terhambat dalam melakukan banyak hal.
Memang benar. Ketakutan dapat melumpuhkan kita. Kita jadi tidak berani kemana-mana, pulang kesorean sudah menyebabkan kita panik, selalu butuh orang lain untuk menemani dan sebagainya. Bahkan kalau tiba-tiba teringat kejadian kita jadi tak mampu berkonsentrasi, cuma dapat diam lemas tanpa berbuat apa-apa.
Yang mungkin perlu diingat adalah manusia memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Bila kita mudah panik beberapa lama setelah kejadian itu adalah wajar. Kita perlu bersabar saja dengan diri sendiri. Bagaimanapun, bila kepanikan dan rasa takut demikian mengganggu, kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti melakukan olah nafas atau menjalankan meditasi sederhana.
Degupan jantung yang sangat kencang perlu diseimbangkan dengan olah nafas. Yang dapat dilakukan adalah bernafas dengan menarik dan menghembuskan nafas secara teratur, dalam, pelahan, dalam suasana tenang. Lakukan berulang-ulang dengan menyediakan waktu yang cukup, sampai Anda merasa keadaan tubuh menjadi lebih tenang. Meditasi dengan berbagai cara juga dapat dilakukan. Anda perlu mencari waktu, tempat dan suasana yang tenang untuk melakukannya.
Mengapa ada orang yang sepertinya jadi "berubah?" Mereka jadi cepat marah, enggan bergaul, bahkan keluarganya sendiri pun jadi mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan mereka.
Selain berdampak fisik, trauma juga berdampak psikologis. Kejadian traumatik dapat mengubah cara pandang dan pemahaman manusia mengenai dunia. Seorang yang mulanya percaya diri, demikian terguncang setelah orangtua mendadak meninggal. Tiba-tiba ia disadarkan bahwa ada hal-hal yang tak mampu dikendalikannya, bahwa selama ini ia terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan kurang memberikan perhatian pada orangtua. Lalu muncul kecemasan dan rasa bersalah, juga perasaan kosong, karena tiba-tiba ia sadar bahwa ia sendiri. Atau orang yang tiba-tiba mengalami PHK. Peristiwa tersebut demikian mengguncang keyakinan dan harga dirinya. Ia merasa tak lagi berharga, merasa orang pasti membicarakan dan menertawakannya, dan lain sebagainya. Contoh lain adalah perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Ia mungkin masih dihantui oleh tuntutan bahwa perempuan harus bersih, suci, "perawan", sehingga setelah perkosaan melihat dirinya demikian buruk, kotor dan tidak pantas dicintai. Bila individu tak mampu mengolah kebingungan dan perasaan-perasaan negatifnya, mungkin saja ia kemudian berkembang menjadi individu yang sensitif, mudah marah, menarik diri dan sebagainya.
Bagaimana agar manusia dapat bangkit setelah peristiwa traumatis?
Apakah kita dapat hidup normal setelah mengalami peristiwa sangat menyakitkan?
Ada beberapa hal yang tampaknya berperan.
Pertama,
masalah-masalah kehidupan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Dalam perjalanan hidupnya, manusia pasti akan mengalami berbagai hambatan untuk dapat bertumbuh: gagal, ditolak atau disakiti, memperoleh nilai buruk, berbeda pendapat dengan orang lain, tidak disukai, menderita sakit serius, kalah dalam kompetisi dan lain sebagainya. Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk itu. Kita juga perlu mempersiapkan generasi yang lebih muda, atau orang-orang yang ada dalam tanggungjawab kita, misalnya anak, murid, pegawai, anggota keluarga, untuk mampu menghadapi hal tersebut. Orangtua yang saking takutnya anak akan jatuh lalu tidak membolehkan anaknya belajar naik sepeda, misalnya, sesungguhnya sedang membentuk anaknya menjadi manusia yang kecil hati, mudah menyerah, tidak tangguh. Kita justru perlu menyediakan kesempatan bagi diri sendiri dan orang-orang lain yang berada dalam tanggungjawab kita, untuk dapat berkembang menjadi orang yang tidak cepat menyerah, yang tangguh, yang mampu bangkit setelah peristiwa menyakitkan. Bila kita tidak diberi kesempatan untuk gagal, menghadapi hambatan, atau mengalami kesakitan, bagaimana kita dapat terbentuk menjadi manusia yang kuat dan tegar?
Yang kedua
adalah masalah dukungan sosial. Ketika orang menghadapi masalah sangat berat, dan tidak ada pihak-pihak yang dapat ditemuinya untuk memberikan dukungan, masalah menjadi terasa makin berat. Bayangkan seseorang yang mengalami PHK dan keluarganya kemudian justru mempersalahkannya. Atau seorang perempuan yang mengalami perkosaan dan kemudian ditinggalkan oleh pacarnya, atau dipersalahkan oleh orangtua karena dianggap telah membawa aib bagi keluarga. Perkosaan itu sendiri sudah sangat menyakitkan dan mengguncang, dibutuhkan waktu cukup lama untuk dapat keluar dari trauma perkosaan, bahkan dengan adanya dukungan dari orang-orang dekat. Jadi bila tidak ada orang yang peduli, bahkan orang lain menyudutkan dan menghina, tentunya perjuangan untuk memulihkan diri menjadi makin sulit.
Yang ketiga dan juga sangat penting adalah masalah pengembangan makna hidup. Kejadian traumatis dapat menjadi pencetus untuk mengkait-kaitkan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup, untuk kemudian mengembangkan pemaknaan. Orang yang sulit keluar dari trauma umumnya mengembangkan makna hidup yang negatif setelah kejadian: "Hidupku telah hancur. Tidak ada lagi yang dapat kulakukan. Orang-orang memandangku dengan aneh. Aku manusia sial. Bahkan Tuhan tidak menyayangi aku." Dan lain sebagainya.
Orang-orang yang dapat pulih dari trauma umumnya adalah mereka yang dapat mengembangkan pemaknaan positif atas hidupnya: peristiwa yang berlalu digunakan sebagai pembelajaran dan pengingat. Ia yang selama ini menghabiskan waktu untuk bekerja mungkin merasa diingatkan untuk hidup lebih seimbang, untuk memberikan perhatian pada keluarga. Ia yang selama ini tak memikirkan masa depan anak-anaknya jadi sadar bahwa ia perlu mengambil langkah untuk berjaga-jaga. Ia terdorong untuk hidup lebih hemat, membuat asuransi pendidikan untuk anak, atau menabung. Ia yang sebelumnya sibuk dengan diri sendiri mulai menyadari pentingnya berhubungan sosial dengan orang lain. Mereka membuat penyimpulan positif atas kehidupan mereka. "Memang hal itu sangat menyakitkan. Tetapi aku tidak ingin diperangkap oleh bayangan buruk. Aku anggap saja kejadian itu sebagai pengingat: agar aku lebih berhati-hati, agar aku hidup lebih seimbang. Agar aku peduli pada orang-orang lain yang mengalami hal serupa." Dan seterusnya dan seterusnya. Peristiwa menyakitkan tidak ditolak, tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dibenci atau ditakuti. Peristiwa menyakitkan diterima sebagai bagian dari hidup, sebagai hal yang memperkaya dan menumbuhkan.
Bagaimana dengan orang yang hidupnya sungguh-sungguh berubah setelah kejadian, misalnya jatuh miskin, mengalami kecacatan dan sebagainya? Bukankah sangat sulit bagi mereka untuk dapat bangkit kembali?
Memang benar. Untuk mereka yang situasi hidupnya berubah signifikan setelah kejadian traumatis, misalnya harus mengalami kecacatan, atau hidup sangat pas-pasan padahal sebelumnya bergelimang kemewahan, diperlukan upaya yang lebih besar, dan dukungan sosial kuat dari orang-orang terdekat. Barangkali dibutuhkan bukan sekadar dorongan semangat, tetapi juga dukungan konkrit. Bila ia kehilangan pekerjaannya, apakah kita dapat ikut mencarikan jalan atau menyediakan alternatif-alternatif untuk mengatasi kesulitan ekonomi? Situasi yang sangat berubah juga dapat mengguncang konsep diri. Diperlukan dukungan personal, sosial maupun profesional agar individu tetap dapat mengembangkan gambaran yang positif akan diri dan kehidupannya.
Bagaimanapun, manusia memiliki resiliensi atau ketangguhan untuk menghadapi kesulitan, dan mengembangkan pemaknaan positif atas kehidupan. Ada contoh-contoh pengalaman hidup nyata yang menunjukkan bahwa peristiwa traumatis yang demikian mengerikan dapat dilewati, diterima sebagai bagian hidup yang tidak menghalangi langkah-langkah konstruktif membangun masa depan (Kristi Poerwandari).
http://www.pulih.or.id/?lang=&page=self&id=114
Banyak orang menyebut dirinya mengalami trauma. Setelah mengalami kecelakaan jadi tidak berani lagi menyetir karena trauma. Atau putus cinta, lalu trauma dan tidak berani menjalin hubungan serius lagi. Sebenarnya apa arti trauma?
Secara sederhana trauma bermakna luka atau kekagetan (shock). Dalam artian psikologis trauma mengacu pada pengalaman-pengalaman emosional yang mengejutkan, menyakitkan dan membawa dampak serius, tidak jarang untuk jangka waktu lama.
Kematian anggota keluarga secara mendadak, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, mengalami perkosaan, terbakarnya rumah tinggal, atau peristiwa ledakan bom di JW Marriott, misalnya, semua ini dapat menjadi contoh kejadian-kejadian yang sama sekali tak terduga, tak terbayangkan akan terjadi, sangat mengagetkan dan menyakitkan.
Mengapa reaksi orang berbeda-beda menghadapi trauma? Ada pembalap yang setelah mengalami kecelakaan langsung terjun lagi berlomba begitu sembuh. Tetapi banyak juga yang kemudian jadi demikian takut: jangankan akan menyetir lagi, melihat mobil berjalan cepat saja dada berdebar-debar, bahkan ada yang jadi sulit tidur.
Trauma adalah kejadian tak disangka-sangka, seringkali bukan saja mengejutkan tetapi juga sangat mengancam rasa aman. Karenanya, menyusul suatu kejadian traumatik, misalnya mengalami kecelakaan, rumah terbakar, atau jatuh dari jembatan, wajar bila untuk sementara waktu kita kemudian mengalami masalah-masalah penyesuaian diri. Trauma mengguncang keseimbangan tubuh dan jiwa, mendesakkan diri dalam ingatan, menyebabkan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi sehari-hari, pengalaman-pengalaman bahagia dan menyenangkan, kejadian-kejadian biasa yang sesungguhnya mengisi kehidupan kita selama puluhan tahun, terpinggirkan dan seolah jadi tak penting. Yang menguasai ingatan dan pikiran, untuk sementara waktu, adalah peristiwa traumatis itu. Peristiwa itu jadi seperti adegan film yang tanpa kita kehendaki seenaknya berputar-putar sendiri kapan ia mau.
Ketika melewati daerah dimana kita pernah mengalami perampokan, atau melihat gedung-gedung berkaca yang mengingatkan kita akan berhamburannya kaca-kaca yang pecah akibat ledakan bom, peristiwa yang pernah terjadi tiba-tiba seperti terulang kembali: tubuh dan jiwa kita kemudian bereaksi. Dada tiba-tiba berdegup sangat kencang, seluruh tubuh lemas, keringat dingin membasahi, kita bahkan bisa sesak nafas dan kemudian pingsan. Secara psikologis kita dapat mengalami serangan panik, tak mampu berpikir, dilanda kecemasan kuat, dan lain sebagainya.
Jadi, hal itu adalah respon wajar menyusul kejadian yang sangat tidak wajar. Adalah normal menghayati hal-hal di atas segera, dan beberapa lama setelah kejadian. Siapapun orangnya, sehebat apapun dia, biasanya akan menunjukkan respon-respon demikian dalam intensitas tertentu, setelah kejadian traumatis.
Tetapi mengapa dampaknya berbeda-beda pada tiap orang? Mengapa sepertinya ada juga yang tidak terpengaruh, misalnya dalam contoh pembalap yang tidak kapok membalap?
Perbedaannya mungkin berawal dari kenyataan, bahwa yang traumatis bagi satu orang dan orang lain berbeda. Untuk orang yang selalu dilindungi dan dimanja keluarganya, suatu bentakan dapat menjadi peristiwa sangat mengejutkan dan menakutkan. Untuk yang lain, perkelahian menjadi kegiatan sehari-hari, bahkan dapat menjadi hiburan di tengah kebosanan. Bagi seorang pembalap kegiatan berlomba balap mungkin telah demikian menyatu dalam jiwa, menjadi aktivitas yang sentral dan memaknai hidupnya. Karena membalap adalah pilihan hidupnya, kecelakaan saat membalap telah diantisipasi dan tidak perlu menjadi suatu peristiwa traumatis.
Meski demikian, bila kejadian memang dihayati sebagai traumatis, dalam artian tak disangka, menyakitkan dan mengguncang, dalam jangka waktu tertentu biasanya ada respon-respon umum yang muncul, yakni sebagian atau beberapa hal-hal berikut:
* Ingatan atau bayangan mencengkeram tentang trauma, atau merasa seperti kejadian terjadi kembali ("Flashbacks")
* Respon-respon fisik seperti dada berdebar, munculnya keringat dingin, lemas tubuh atau sesak nafas saat teringat atau berada dalam situasi yang mengingatkan pada kejadian
* Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
* Mudah terbangkitkan ingatannya bila ada stimulus atau rangsang yang berasosiasi dengan trauma (lokasi, kemiripan fisik atau suasana, suara dan bau, dan sebagainya).
Pada beberapa orang dapat terjadi:
* Mimpi buruk, gangguan tidur
* Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan
* Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
* Kesulitan mengendalikan emosi atau perasaan, misalnya menjadi sensitif, cepat marah, tidak sabar
* Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.
Barangkali intensitasnya saja yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain: ada yang menjadi waspada dan takut sangat berlebihan, sehingga bahkan keluar rumah pun tidak bersedia, ada pula yang meski cemas tetap dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Ada yang mampu cepat keluar dari trauma, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama.
Kapan suatu respon dianggap tidak lagi wajar? Kapan kita harus mulai waspada bahwa peristiwa traumatis telah berdampak buruk dan mengganggu kesehatan mental?
Biasanya, respon-respon yang disebutkan di atas akan berkurang intensitasnya sejalan dengan berlalunya waktu. Bila setelah jangka waktu lama misalnya sebulan atau lebih individu tetap menunjukkan kewaspadaan berlebih, dicekam oleh mimpi-mimpi buruk, kehilangan kendali, apalagi menunjukkan perubahan perilaku (misal: menjadi sangat penakut, menghindar dari semua hal yang mengingatkannya pada kejadian), individu ini mungkin perlu meminta bantuan profesional khusus untuk memfasilitasi pemulihan.
Bagaimana menanggulangi serangan panik, seperti dada yang tiba-tiba berdebar-debar kencang, rasa takut dan mudah sekali terkejut? Hidup menjadi sangat terganggu karenanya. Kita sulit berkonsentrasi, dan jadi terhambat dalam melakukan banyak hal.
Memang benar. Ketakutan dapat melumpuhkan kita. Kita jadi tidak berani kemana-mana, pulang kesorean sudah menyebabkan kita panik, selalu butuh orang lain untuk menemani dan sebagainya. Bahkan kalau tiba-tiba teringat kejadian kita jadi tak mampu berkonsentrasi, cuma dapat diam lemas tanpa berbuat apa-apa.
Yang mungkin perlu diingat adalah manusia memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Bila kita mudah panik beberapa lama setelah kejadian itu adalah wajar. Kita perlu bersabar saja dengan diri sendiri. Bagaimanapun, bila kepanikan dan rasa takut demikian mengganggu, kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti melakukan olah nafas atau menjalankan meditasi sederhana.
Degupan jantung yang sangat kencang perlu diseimbangkan dengan olah nafas. Yang dapat dilakukan adalah bernafas dengan menarik dan menghembuskan nafas secara teratur, dalam, pelahan, dalam suasana tenang. Lakukan berulang-ulang dengan menyediakan waktu yang cukup, sampai Anda merasa keadaan tubuh menjadi lebih tenang. Meditasi dengan berbagai cara juga dapat dilakukan. Anda perlu mencari waktu, tempat dan suasana yang tenang untuk melakukannya.
Mengapa ada orang yang sepertinya jadi "berubah?" Mereka jadi cepat marah, enggan bergaul, bahkan keluarganya sendiri pun jadi mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan mereka.
Selain berdampak fisik, trauma juga berdampak psikologis. Kejadian traumatik dapat mengubah cara pandang dan pemahaman manusia mengenai dunia. Seorang yang mulanya percaya diri, demikian terguncang setelah orangtua mendadak meninggal. Tiba-tiba ia disadarkan bahwa ada hal-hal yang tak mampu dikendalikannya, bahwa selama ini ia terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan kurang memberikan perhatian pada orangtua. Lalu muncul kecemasan dan rasa bersalah, juga perasaan kosong, karena tiba-tiba ia sadar bahwa ia sendiri. Atau orang yang tiba-tiba mengalami PHK. Peristiwa tersebut demikian mengguncang keyakinan dan harga dirinya. Ia merasa tak lagi berharga, merasa orang pasti membicarakan dan menertawakannya, dan lain sebagainya. Contoh lain adalah perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Ia mungkin masih dihantui oleh tuntutan bahwa perempuan harus bersih, suci, "perawan", sehingga setelah perkosaan melihat dirinya demikian buruk, kotor dan tidak pantas dicintai. Bila individu tak mampu mengolah kebingungan dan perasaan-perasaan negatifnya, mungkin saja ia kemudian berkembang menjadi individu yang sensitif, mudah marah, menarik diri dan sebagainya.
Bagaimana agar manusia dapat bangkit setelah peristiwa traumatis?
Apakah kita dapat hidup normal setelah mengalami peristiwa sangat menyakitkan?
Ada beberapa hal yang tampaknya berperan.
Pertama,
masalah-masalah kehidupan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Dalam perjalanan hidupnya, manusia pasti akan mengalami berbagai hambatan untuk dapat bertumbuh: gagal, ditolak atau disakiti, memperoleh nilai buruk, berbeda pendapat dengan orang lain, tidak disukai, menderita sakit serius, kalah dalam kompetisi dan lain sebagainya. Kita perlu mempersiapkan diri kita untuk itu. Kita juga perlu mempersiapkan generasi yang lebih muda, atau orang-orang yang ada dalam tanggungjawab kita, misalnya anak, murid, pegawai, anggota keluarga, untuk mampu menghadapi hal tersebut. Orangtua yang saking takutnya anak akan jatuh lalu tidak membolehkan anaknya belajar naik sepeda, misalnya, sesungguhnya sedang membentuk anaknya menjadi manusia yang kecil hati, mudah menyerah, tidak tangguh. Kita justru perlu menyediakan kesempatan bagi diri sendiri dan orang-orang lain yang berada dalam tanggungjawab kita, untuk dapat berkembang menjadi orang yang tidak cepat menyerah, yang tangguh, yang mampu bangkit setelah peristiwa menyakitkan. Bila kita tidak diberi kesempatan untuk gagal, menghadapi hambatan, atau mengalami kesakitan, bagaimana kita dapat terbentuk menjadi manusia yang kuat dan tegar?
Yang kedua
adalah masalah dukungan sosial. Ketika orang menghadapi masalah sangat berat, dan tidak ada pihak-pihak yang dapat ditemuinya untuk memberikan dukungan, masalah menjadi terasa makin berat. Bayangkan seseorang yang mengalami PHK dan keluarganya kemudian justru mempersalahkannya. Atau seorang perempuan yang mengalami perkosaan dan kemudian ditinggalkan oleh pacarnya, atau dipersalahkan oleh orangtua karena dianggap telah membawa aib bagi keluarga. Perkosaan itu sendiri sudah sangat menyakitkan dan mengguncang, dibutuhkan waktu cukup lama untuk dapat keluar dari trauma perkosaan, bahkan dengan adanya dukungan dari orang-orang dekat. Jadi bila tidak ada orang yang peduli, bahkan orang lain menyudutkan dan menghina, tentunya perjuangan untuk memulihkan diri menjadi makin sulit.
Yang ketiga dan juga sangat penting adalah masalah pengembangan makna hidup. Kejadian traumatis dapat menjadi pencetus untuk mengkait-kaitkan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup, untuk kemudian mengembangkan pemaknaan. Orang yang sulit keluar dari trauma umumnya mengembangkan makna hidup yang negatif setelah kejadian: "Hidupku telah hancur. Tidak ada lagi yang dapat kulakukan. Orang-orang memandangku dengan aneh. Aku manusia sial. Bahkan Tuhan tidak menyayangi aku." Dan lain sebagainya.
Orang-orang yang dapat pulih dari trauma umumnya adalah mereka yang dapat mengembangkan pemaknaan positif atas hidupnya: peristiwa yang berlalu digunakan sebagai pembelajaran dan pengingat. Ia yang selama ini menghabiskan waktu untuk bekerja mungkin merasa diingatkan untuk hidup lebih seimbang, untuk memberikan perhatian pada keluarga. Ia yang selama ini tak memikirkan masa depan anak-anaknya jadi sadar bahwa ia perlu mengambil langkah untuk berjaga-jaga. Ia terdorong untuk hidup lebih hemat, membuat asuransi pendidikan untuk anak, atau menabung. Ia yang sebelumnya sibuk dengan diri sendiri mulai menyadari pentingnya berhubungan sosial dengan orang lain. Mereka membuat penyimpulan positif atas kehidupan mereka. "Memang hal itu sangat menyakitkan. Tetapi aku tidak ingin diperangkap oleh bayangan buruk. Aku anggap saja kejadian itu sebagai pengingat: agar aku lebih berhati-hati, agar aku hidup lebih seimbang. Agar aku peduli pada orang-orang lain yang mengalami hal serupa." Dan seterusnya dan seterusnya. Peristiwa menyakitkan tidak ditolak, tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dibenci atau ditakuti. Peristiwa menyakitkan diterima sebagai bagian dari hidup, sebagai hal yang memperkaya dan menumbuhkan.
Bagaimana dengan orang yang hidupnya sungguh-sungguh berubah setelah kejadian, misalnya jatuh miskin, mengalami kecacatan dan sebagainya? Bukankah sangat sulit bagi mereka untuk dapat bangkit kembali?
Memang benar. Untuk mereka yang situasi hidupnya berubah signifikan setelah kejadian traumatis, misalnya harus mengalami kecacatan, atau hidup sangat pas-pasan padahal sebelumnya bergelimang kemewahan, diperlukan upaya yang lebih besar, dan dukungan sosial kuat dari orang-orang terdekat. Barangkali dibutuhkan bukan sekadar dorongan semangat, tetapi juga dukungan konkrit. Bila ia kehilangan pekerjaannya, apakah kita dapat ikut mencarikan jalan atau menyediakan alternatif-alternatif untuk mengatasi kesulitan ekonomi? Situasi yang sangat berubah juga dapat mengguncang konsep diri. Diperlukan dukungan personal, sosial maupun profesional agar individu tetap dapat mengembangkan gambaran yang positif akan diri dan kehidupannya.
Bagaimanapun, manusia memiliki resiliensi atau ketangguhan untuk menghadapi kesulitan, dan mengembangkan pemaknaan positif atas kehidupan. Ada contoh-contoh pengalaman hidup nyata yang menunjukkan bahwa peristiwa traumatis yang demikian mengerikan dapat dilewati, diterima sebagai bagian hidup yang tidak menghalangi langkah-langkah konstruktif membangun masa depan (Kristi Poerwandari).
http://www.pulih.or.id/?lang=&page=self&id=114
Rabu, 09 September 2009
50 Tips Diet Sehat
Langsing dan cantik impian semua wanita. Walaupun tidak mudah untuk dilakukan akan tetapi banyak wanita rela menahan lapar dan berolahraga berjam-jam. Diet yang baik bukanlah dengan cara berpuasa tapi juga pengaturan makanan berdasarkan umur dan aktivitas. Berikut beberapa tips yang dijamin membuat diet Anda lebih baik dan sehat.
1. Hindari pemikiran semua atau tidak sama sekali. Berpuasa bukanlah cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Makanlah secukupnya dan atur asupan kalori secara bijaksana.
2. Potonglah buah-buahan yang Anda suka dalam potongan kecil untuk menggantikan snack yang tidak sehat.
3. Hindari memakan cemilan dari toples, anda akan tidak sadar berapa banyak yang telah masuk ke dalam mulut Anda. Taruhlah didalam piring atau cukup ambil segenggam.
4. Jika Anda termasuk orang yang menyukai roti, pilihlah yang wholegrain.
5. Hindari makanan yang mengandung lemak lebih dari 10 persen. Baca label informasi nutrisi di dalam kardus makanan.
6. Catatlah makanan yang telah Anda santap selama 2 minggu. Percayalah Anda akan terkejut!
7. Mentega memiliki kandungan lemak jenuh. Hindari atau ganti dengan yang rendah lemak.
8. Bawalah botol air minum kemanapun Anda pergi. Dengan begitu Anda tidak akan terdehidrasi dan juga lebih sedikit kemungkinan untuk memilih minuman yang bersoda ataupun terlalu banyak gula.
9. Cobalah detoxification, untuk mengeluarkan racun dalam tubuh Anda
10. Snack baik bagi Anda untuk mencegah makan siang atau malam yang berlebihan.
11. Carilah teman atau partner untuk berdiet bersama. Cara ini akan membuat Anda berdua bias saling memotivasi.
12. Carilah tahu kebiasaan Anda yang merusak program diet. Jika Anda suka mengemil roti menuju gym, gantilah rute Anda!
13. Minumlah banyak air mineral
14. Sayuran rendah di kalori akan tetapi jangan dimasak terlalu lama karena kandungan gizi dapat berubah.
15. Jika Anda terbiasa makan besar spada akhir pekan.Usahakan snack yang rendah lemak dan kalori tersimpan baik di lemari!
16. Selalu pilihlah porsi terkecil dari menu restoran yang ada
17. Belilah sebuah juicer dan mulailah buat kreasi jus Anda sendiri. Jangan lupa untuk mencoba jus sayuran. Kaya vitamin dan lebih sedikit fruktosa.
18. Jangan berpikir bahwa salad selalu aman dikonsumsi. Mereka biasanya juga dikombinasikan dengan mayonnaise dan keju.
19. Sikatlah gigi Anda jika keinginan ngemil muncul. Rasa makanan menjadi buruk setelah Anda menyikat gigi.
20. Ingin menyantap coklat? Pilihlah low fat coklat!
21. Porsi makan bertambah selagi PMS? Lawan dengan mengkonsumsi kacang Almond. Mereka memberi banyak protein dan juga mengurangi keinginan ngemil makanan manis.
22. Pilihlah makanan yang direbus, berkuah, di tim, atau dibakar sebelum Anda memilih yang digoreng.
23. Pilihlah seledri sebagai teman diet yang setia mulai sekarang.
24. Perhatikan bagaimana wanita langsing memesan makanan. Cari tahu dan jadikan rahasia mereka, rahasia Anda.
25. Gunakanlah sumpit untuk memperlambat makan Anda.
26. Hindari mengemil disaat Anda bosan, gantikanlah dengan hal-hal yang ingin Anda lakukan tapi tidak sempat!
27. Jangan berpikir bahwa Anda akan mulai berdiet setelah melalui masa stress. Percayalah masa ini akan selalu ada! Sebaliknya persiapkan diri Anda untuk menghadapi masa-masa ini dan tetap fokus kepada diet Anda.
28. Jam 3 adalah waktu snack favorit. Pilihan terbaik untuk meningkatkan energi meliputi pisang, kacang, dan low fat yoghurt.
29. Cobalah untuk lebih memilih kualitas daripada kuantitas.
30. Tambahkan cabai atau rempah-rempah pedas untuk meningkatkan metabolisme tubuh Anda.
31. Tambahkan es kedalam minuman Anda. Karena tubuh Anda membutuhkan energi untuk menyesuaikan minuman tersebut dengan suhu tubuh. Yang pada akhirnya akan membakar lemak Anda!
32. Siapkan semua makanan Anda sendiri daripada makanan siap saji. Akan lebih mudah bagi Anda untuk mengontrol asupan gula dan kalori yang dipakai.
33. Untuk mengalahkan rasa lapar ketika memasak, mulailah dengan menyantap sepiring besar salad!
34. Ketika membaca artikel tentang diet yang cocok dengan Anda. Gunting dan tempelkanlah dikulkas Anda!
35. Dapatkan tidur yang cukup! Kelelahan berkepanjangan akan menyebabkan Anda meraih makanan yang tinggi kalori.
36. Susu kedelai merupakan alternatif yang lebih baik untuk mengkonsumsi susu rendah lemak!
37. Kurangi garam Anda!
38. Taruhlah foto di kulkas untuk memotivasi Anda!
39. Go Green! Pilihlah sayuran hijau ataupun teh hijau yang akan memberi kontribusi pada kesehatan Anda!
40. Pilihlah yang diet jika Anda terpaksa minum soda.
41. Untuk pembakaran lemak secara maksimal maka Anda diharuskan untuk mengkonsumi kacang-kacangan!
42. Sangat mudah untuk membuat temu janji di restoran ataupun kafe, Akan tetapi pilihlah tempat yang tidak akan membuat Anda harus makan! Seperti olahraga ataupun kerajinan tangan!
43. Pilihlah tangga daripada lift ataupun eskalator.
44. Hitung budget Anda untuk makanan ataupun snack. Anda bisa mengalokasikan dana tersebut untuk keperluan lain.
45. Pisang adalah makanan terbaik sebelum Anda memulai berolahraga. Pisang dipenuhi dengan potassium yang akan membantu dengan otot dan kadar air dalam tubuh Anda.
46. Jangan lakukan hal lain ketika Anda sedang makan. Jika Anda makan sambil membaca ataupun sambil menonton, Anda akan segera mengasosiasikan kedua kegiatan ini. Anda akan segera makan begitu TV dinyalakan.
47. Pastikan Anda mendapatkan cukup matahari. Vitamin D akan membantu Anda mendapatkan lebih banyak kalsium yang akan lebih mempercepat proses metabolisme.
48. Cobalah Herbal Tea secara bergiliran dan pilihlah favorit Anda. Percayalah ini investasi terbaik untuk kesehatan Anda.
49. Gigitlah makanan Anda secara perlahan-lahan!
50. Minumlah segelas air dengan perasan jeruk lemon untuk membantu meningkatkan metabolisme Anda!(cr)
http://www.weddingku.com/communitydetail.asp?articleID=1002787&articleCategoryID=1000146
Laporkan
1. Hindari pemikiran semua atau tidak sama sekali. Berpuasa bukanlah cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Makanlah secukupnya dan atur asupan kalori secara bijaksana.
2. Potonglah buah-buahan yang Anda suka dalam potongan kecil untuk menggantikan snack yang tidak sehat.
3. Hindari memakan cemilan dari toples, anda akan tidak sadar berapa banyak yang telah masuk ke dalam mulut Anda. Taruhlah didalam piring atau cukup ambil segenggam.
4. Jika Anda termasuk orang yang menyukai roti, pilihlah yang wholegrain.
5. Hindari makanan yang mengandung lemak lebih dari 10 persen. Baca label informasi nutrisi di dalam kardus makanan.
6. Catatlah makanan yang telah Anda santap selama 2 minggu. Percayalah Anda akan terkejut!
7. Mentega memiliki kandungan lemak jenuh. Hindari atau ganti dengan yang rendah lemak.
8. Bawalah botol air minum kemanapun Anda pergi. Dengan begitu Anda tidak akan terdehidrasi dan juga lebih sedikit kemungkinan untuk memilih minuman yang bersoda ataupun terlalu banyak gula.
9. Cobalah detoxification, untuk mengeluarkan racun dalam tubuh Anda
10. Snack baik bagi Anda untuk mencegah makan siang atau malam yang berlebihan.
11. Carilah teman atau partner untuk berdiet bersama. Cara ini akan membuat Anda berdua bias saling memotivasi.
12. Carilah tahu kebiasaan Anda yang merusak program diet. Jika Anda suka mengemil roti menuju gym, gantilah rute Anda!
13. Minumlah banyak air mineral
14. Sayuran rendah di kalori akan tetapi jangan dimasak terlalu lama karena kandungan gizi dapat berubah.
15. Jika Anda terbiasa makan besar spada akhir pekan.Usahakan snack yang rendah lemak dan kalori tersimpan baik di lemari!
16. Selalu pilihlah porsi terkecil dari menu restoran yang ada
17. Belilah sebuah juicer dan mulailah buat kreasi jus Anda sendiri. Jangan lupa untuk mencoba jus sayuran. Kaya vitamin dan lebih sedikit fruktosa.
18. Jangan berpikir bahwa salad selalu aman dikonsumsi. Mereka biasanya juga dikombinasikan dengan mayonnaise dan keju.
19. Sikatlah gigi Anda jika keinginan ngemil muncul. Rasa makanan menjadi buruk setelah Anda menyikat gigi.
20. Ingin menyantap coklat? Pilihlah low fat coklat!
21. Porsi makan bertambah selagi PMS? Lawan dengan mengkonsumsi kacang Almond. Mereka memberi banyak protein dan juga mengurangi keinginan ngemil makanan manis.
22. Pilihlah makanan yang direbus, berkuah, di tim, atau dibakar sebelum Anda memilih yang digoreng.
23. Pilihlah seledri sebagai teman diet yang setia mulai sekarang.
24. Perhatikan bagaimana wanita langsing memesan makanan. Cari tahu dan jadikan rahasia mereka, rahasia Anda.
25. Gunakanlah sumpit untuk memperlambat makan Anda.
26. Hindari mengemil disaat Anda bosan, gantikanlah dengan hal-hal yang ingin Anda lakukan tapi tidak sempat!
27. Jangan berpikir bahwa Anda akan mulai berdiet setelah melalui masa stress. Percayalah masa ini akan selalu ada! Sebaliknya persiapkan diri Anda untuk menghadapi masa-masa ini dan tetap fokus kepada diet Anda.
28. Jam 3 adalah waktu snack favorit. Pilihan terbaik untuk meningkatkan energi meliputi pisang, kacang, dan low fat yoghurt.
29. Cobalah untuk lebih memilih kualitas daripada kuantitas.
30. Tambahkan cabai atau rempah-rempah pedas untuk meningkatkan metabolisme tubuh Anda.
31. Tambahkan es kedalam minuman Anda. Karena tubuh Anda membutuhkan energi untuk menyesuaikan minuman tersebut dengan suhu tubuh. Yang pada akhirnya akan membakar lemak Anda!
32. Siapkan semua makanan Anda sendiri daripada makanan siap saji. Akan lebih mudah bagi Anda untuk mengontrol asupan gula dan kalori yang dipakai.
33. Untuk mengalahkan rasa lapar ketika memasak, mulailah dengan menyantap sepiring besar salad!
34. Ketika membaca artikel tentang diet yang cocok dengan Anda. Gunting dan tempelkanlah dikulkas Anda!
35. Dapatkan tidur yang cukup! Kelelahan berkepanjangan akan menyebabkan Anda meraih makanan yang tinggi kalori.
36. Susu kedelai merupakan alternatif yang lebih baik untuk mengkonsumsi susu rendah lemak!
37. Kurangi garam Anda!
38. Taruhlah foto di kulkas untuk memotivasi Anda!
39. Go Green! Pilihlah sayuran hijau ataupun teh hijau yang akan memberi kontribusi pada kesehatan Anda!
40. Pilihlah yang diet jika Anda terpaksa minum soda.
41. Untuk pembakaran lemak secara maksimal maka Anda diharuskan untuk mengkonsumi kacang-kacangan!
42. Sangat mudah untuk membuat temu janji di restoran ataupun kafe, Akan tetapi pilihlah tempat yang tidak akan membuat Anda harus makan! Seperti olahraga ataupun kerajinan tangan!
43. Pilihlah tangga daripada lift ataupun eskalator.
44. Hitung budget Anda untuk makanan ataupun snack. Anda bisa mengalokasikan dana tersebut untuk keperluan lain.
45. Pisang adalah makanan terbaik sebelum Anda memulai berolahraga. Pisang dipenuhi dengan potassium yang akan membantu dengan otot dan kadar air dalam tubuh Anda.
46. Jangan lakukan hal lain ketika Anda sedang makan. Jika Anda makan sambil membaca ataupun sambil menonton, Anda akan segera mengasosiasikan kedua kegiatan ini. Anda akan segera makan begitu TV dinyalakan.
47. Pastikan Anda mendapatkan cukup matahari. Vitamin D akan membantu Anda mendapatkan lebih banyak kalsium yang akan lebih mempercepat proses metabolisme.
48. Cobalah Herbal Tea secara bergiliran dan pilihlah favorit Anda. Percayalah ini investasi terbaik untuk kesehatan Anda.
49. Gigitlah makanan Anda secara perlahan-lahan!
50. Minumlah segelas air dengan perasan jeruk lemon untuk membantu meningkatkan metabolisme Anda!(cr)
http://www.weddingku.com/communitydetail.asp?articleID=1002787&articleCategoryID=1000146
Laporkan
Selasa, 08 September 2009
7 Tingkatan Beratnya Keluhan Impotensi
Pada laki-laki yang impoten, kemampuan ereksi terganggu sehingga tidak memungkinkan terjadinya insersi penis pada vagina saat terjadi hubungan seksual.
Menurut English & Weiss ada beberapa tingkat impotensia, sebagai berikut:
Poten tetapi tidak mampu merasakan kenikmatan koitus dengan optimal:
Pria ini dapat melakukan koitus dengan sempurna secara fisik -- dan pada mulanya dengan minat yang cukup terhadap masalah seks-- tetapi sering mengalami hambatan dalam menghayati koitus dengan optimal. Pria ini dalam hati kecilnya tidak menyukai wanita. Ia merasa cukup puas memiliki wanita dengan beristri, tetapi tidak mengharapkan terus menerus bersama-sama dengan wanita. Kalau keadaan ini berlarut-larut, kemungkinan ia akan menjadi impoten.
Poten tetapi koitus dilakukan tidak dengan kesediaan sepenuh hati:
Kecemasan, cerita-cerita takhayul, dan rasa dosa seringkali dikaitkan dengan aktivitas seksual. Sedangkan informasi yang baik dan faktual mengenai masa seks tidak pernah diberikan dengan gamblang dan jelas. Akibatnya, timbul keyakinan bahwa aktivitas seksual merupakan penyebab kelelahan fisik, berkurangnya tenaga, menyakitkan, badan menjadi tidak segar dan sebagainya.
Pria ini akan jarang melakukan koitus. Kalau kehetulan ia menikah dengan wanita yang sangat bergairah, maka ia akan melayani keinginan istrinya dengan rasa terpaksa dan enggan sekali. Jadi, koitus yang dilakukan tanpa kesediaan sepenuh hati, jelas tidak akan mencapai tujuannya.
Berminat koitus tetapi tidak selalu mampu ereksi bila diinginkan:
Pria ini cukup berminat koitus, tetapi apabila tiba saatnya untuk melaksanakannya, ia gagal untuk ereksi. Pada dasarnya, jenis keluhan ini terjadi pada pria yang diliputi kecemasan terhadap “melukai” diri dalam koitus.
Ereksi yang kurang sempurna (lembek):
Pria ini secara sadar mengetahui bahwa dirinya harus memberikan kepuasan pada partnernya, tetapi ia kurang mampu mencapai ereksi yang keras. Ereksi memang terjadi, tetapi tidak cukup kuat untuk menembus vagina atau apabila berhasil maka gerakan-gerakannya kurang kuat untuk memberikan kenikmatan. Keengganan berhubungan intim dengan partnernya secara tidak sadar berpengaruh pada keluhan jenis ini.
Ejakulasi prematur:
Keluhan ini paling banyak ditemukan dalam praktek psikologi. Pria merasa rendah diri. Keluhan ini dapat dibedakan menjadi ejakulasi yang terjadi sebelum koitus dan ejakulasi yang terjadi simultan dengan insersi atau beberapa detik sesudah insersi. Dalam kasus keluhan ejakulasi yang kedua ini partnernya belum sempat mendapatkan stimulasi seksual apalagi untuk mencapai orgasme. Kadang-kadang ejakulasi prematur pada mulanya hanya dianggap sebagai keanehan personal saja. Mereka baru merasakan sebagai kelainan apabila secara kebetulan mendengar, membaca atau mendapatkan informasi dari orang lain.
Impoten total tetapi masih tersisa minat terhadap koitus:
Ada kasus-kasus dimana kemampuan ereksi hilang sama sekali, tetapi mereka masih memiliki minat terhadap wanita dan bahkan terhadap aktivitas heteroseksual. Karena kemampuan ereksi sebagian besar terletak pada faktor psikologis, maka jenis impotensia ini harus dibedakan dengan jenis impotensia total dimana orang yang bersangkutan juga tidak berminat sama sekali terhadap koitus.
Impoten total tanpa minat sedikit pun terhadap koitus:
Pria ini juga memiliki sejumlah hambatan-hambatan lain dari kondisi ini, bersumber pada latar belakang neurotis yang berat, sehingga kasus ini membutuhkan perawatan yang lain karena minat terhadap masalah seksual harus dibina dahulu sebelum meningkat pada masalah yang berkaitan dengan aktivitas seksual yang normal.
Penyebab Impotensi
Faktor psikologis yang berpengaruh terhadap keluhan impotensia antara lain adalah sebagai berikut:
a) Ketakutan yang terkait dengan kemungkinan melukai diri pada saat relasi seksual terjadi
b) Kurangnya kedekatan emosi dengan pasangan seksual;
c) Kemungkinan terdapat kecenderungan homoseksual laten atau memang penderita adalah seorang homoseksual.
d) Kebencian terhadap partner misalnya: Pria benci terhadap wanita dan peranannya sehingga ia menolak untuk memberikan kepuasan pada wanita. Rasa dendam terhadap lawan jenis dengan dorongan untuk menyakiti partnernya.
Konflik cinta yang timbul dengan tidak disadari, misalnya:
1) Seorang pria yang mencintai wanita lain dan tidak menyadarinya, dan tidak menerima relasi seksual pasangannya.
2) Laten homoseksual, lebih tertarik pada jenis kelamin yang sama dibandingkan pada jenis kelamin lain.
3) Narsistik, cinta terhadap orang lain merupakari luapan cinta terhadap dirinya sendiri. Dalam kasus ini tidak tersisa cinta terhadap partner seksualnya.
http://www.indomp3z.us/showthread.php?t=56675
Menurut English & Weiss ada beberapa tingkat impotensia, sebagai berikut:
Poten tetapi tidak mampu merasakan kenikmatan koitus dengan optimal:
Pria ini dapat melakukan koitus dengan sempurna secara fisik -- dan pada mulanya dengan minat yang cukup terhadap masalah seks-- tetapi sering mengalami hambatan dalam menghayati koitus dengan optimal. Pria ini dalam hati kecilnya tidak menyukai wanita. Ia merasa cukup puas memiliki wanita dengan beristri, tetapi tidak mengharapkan terus menerus bersama-sama dengan wanita. Kalau keadaan ini berlarut-larut, kemungkinan ia akan menjadi impoten.
Poten tetapi koitus dilakukan tidak dengan kesediaan sepenuh hati:
Kecemasan, cerita-cerita takhayul, dan rasa dosa seringkali dikaitkan dengan aktivitas seksual. Sedangkan informasi yang baik dan faktual mengenai masa seks tidak pernah diberikan dengan gamblang dan jelas. Akibatnya, timbul keyakinan bahwa aktivitas seksual merupakan penyebab kelelahan fisik, berkurangnya tenaga, menyakitkan, badan menjadi tidak segar dan sebagainya.
Pria ini akan jarang melakukan koitus. Kalau kehetulan ia menikah dengan wanita yang sangat bergairah, maka ia akan melayani keinginan istrinya dengan rasa terpaksa dan enggan sekali. Jadi, koitus yang dilakukan tanpa kesediaan sepenuh hati, jelas tidak akan mencapai tujuannya.
Berminat koitus tetapi tidak selalu mampu ereksi bila diinginkan:
Pria ini cukup berminat koitus, tetapi apabila tiba saatnya untuk melaksanakannya, ia gagal untuk ereksi. Pada dasarnya, jenis keluhan ini terjadi pada pria yang diliputi kecemasan terhadap “melukai” diri dalam koitus.
Ereksi yang kurang sempurna (lembek):
Pria ini secara sadar mengetahui bahwa dirinya harus memberikan kepuasan pada partnernya, tetapi ia kurang mampu mencapai ereksi yang keras. Ereksi memang terjadi, tetapi tidak cukup kuat untuk menembus vagina atau apabila berhasil maka gerakan-gerakannya kurang kuat untuk memberikan kenikmatan. Keengganan berhubungan intim dengan partnernya secara tidak sadar berpengaruh pada keluhan jenis ini.
Ejakulasi prematur:
Keluhan ini paling banyak ditemukan dalam praktek psikologi. Pria merasa rendah diri. Keluhan ini dapat dibedakan menjadi ejakulasi yang terjadi sebelum koitus dan ejakulasi yang terjadi simultan dengan insersi atau beberapa detik sesudah insersi. Dalam kasus keluhan ejakulasi yang kedua ini partnernya belum sempat mendapatkan stimulasi seksual apalagi untuk mencapai orgasme. Kadang-kadang ejakulasi prematur pada mulanya hanya dianggap sebagai keanehan personal saja. Mereka baru merasakan sebagai kelainan apabila secara kebetulan mendengar, membaca atau mendapatkan informasi dari orang lain.
Impoten total tetapi masih tersisa minat terhadap koitus:
Ada kasus-kasus dimana kemampuan ereksi hilang sama sekali, tetapi mereka masih memiliki minat terhadap wanita dan bahkan terhadap aktivitas heteroseksual. Karena kemampuan ereksi sebagian besar terletak pada faktor psikologis, maka jenis impotensia ini harus dibedakan dengan jenis impotensia total dimana orang yang bersangkutan juga tidak berminat sama sekali terhadap koitus.
Impoten total tanpa minat sedikit pun terhadap koitus:
Pria ini juga memiliki sejumlah hambatan-hambatan lain dari kondisi ini, bersumber pada latar belakang neurotis yang berat, sehingga kasus ini membutuhkan perawatan yang lain karena minat terhadap masalah seksual harus dibina dahulu sebelum meningkat pada masalah yang berkaitan dengan aktivitas seksual yang normal.
Penyebab Impotensi
Faktor psikologis yang berpengaruh terhadap keluhan impotensia antara lain adalah sebagai berikut:
a) Ketakutan yang terkait dengan kemungkinan melukai diri pada saat relasi seksual terjadi
b) Kurangnya kedekatan emosi dengan pasangan seksual;
c) Kemungkinan terdapat kecenderungan homoseksual laten atau memang penderita adalah seorang homoseksual.
d) Kebencian terhadap partner misalnya: Pria benci terhadap wanita dan peranannya sehingga ia menolak untuk memberikan kepuasan pada wanita. Rasa dendam terhadap lawan jenis dengan dorongan untuk menyakiti partnernya.
Konflik cinta yang timbul dengan tidak disadari, misalnya:
1) Seorang pria yang mencintai wanita lain dan tidak menyadarinya, dan tidak menerima relasi seksual pasangannya.
2) Laten homoseksual, lebih tertarik pada jenis kelamin yang sama dibandingkan pada jenis kelamin lain.
3) Narsistik, cinta terhadap orang lain merupakari luapan cinta terhadap dirinya sendiri. Dalam kasus ini tidak tersisa cinta terhadap partner seksualnya.
http://www.indomp3z.us/sho
Tentang Saya:
Hobi utama adalah makan. “Saat-saat terindah adalah saat makan”Saya selalu menikmati saat-saat makan, khususnya ketika sedang makan sendirian. Saya suka makan di lantai tanpa alas, , dan dua gelas BIR dari kulkas . Kebiasaan ini sudah dimulai sejak kelas tiga SD hingga sekarang. , Kata kunci dalam mendeskripsikan wanita favorit: jilbab, putih, imut. Boleh kan kita bermimpi? Meskipun cinta tidak cukup hanya dari sekadar penampilan fisik belaka. Walaupun pujaan rahasia terakhir saya agak berbeda dengan trinitas tersebut, tapi kerudung adalah suatu hal yang pasti membuat hati saya terkesiap., Malas beres-beres. Daerah yang bersih di kamar hanyalah sekotak sajadah. Selebihnya… hehehe… bahkan kapal pecah pun masih lebih baik daripada ruang paling pribadi saya. Televisi 14 inchi, botol minuman, makanan berserakan, laptop, kabel-kabel data, hardisk eksternal malang melintang ke sana ke mari. Bisakah membayangkan? Bayangan Anda saya yakin masih jauh lebih rapi daripada kamar saya , Tak ingin diet. Jangan kasih saya kado buku soal diet yah! Apa gunanya? Saya pernah sukses menurunkan berat badan sampai 8 kg dan itu hanya bertahan sebulan saja. Setelah itu berat badan saya naik 10 kg. dah puas? Sudahkah lebih mengenal saya kali ini?
Langganan:
Postingan (Atom)