Selasa, 08 September 2009

7 Tingkatan Beratnya Keluhan Impotensi

Pada laki-laki yang impoten, kemampuan ereksi terganggu sehingga tidak memungkinkan terjadinya insersi penis pada vagina saat terjadi hubungan seksual.

Menurut English & Weiss ada beberapa tingkat impotensia, sebagai berikut:

Poten tetapi tidak mampu merasakan kenikmatan koitus dengan optimal:

Pria ini dapat melakukan koitus dengan sempurna secara fisik -- dan pada mulanya dengan minat yang cukup terhadap masalah seks-- tetapi sering mengalami hambatan dalam menghayati koitus dengan optimal. Pria ini dalam hati kecilnya tidak menyukai wanita. Ia merasa cukup puas memiliki wanita dengan beristri, tetapi tidak mengharapkan terus menerus bersama-sama dengan wanita. Kalau keadaan ini berlarut-larut, kemungkinan ia akan menjadi impoten.

Poten tetapi koitus dilakukan tidak dengan kesediaan sepenuh hati:

Kecemasan, cerita-cerita takhayul, dan rasa dosa seringkali dikaitkan dengan aktivitas seksual. Sedangkan informasi yang baik dan faktual mengenai masa seks tidak pernah diberikan dengan gamblang dan jelas. Akibatnya, timbul keyakinan bahwa aktivitas seksual merupakan penyebab kelelahan fisik, berkurangnya tenaga, menyakitkan, badan menjadi tidak segar dan sebagainya.

Pria ini akan jarang melakukan koitus. Kalau kehetulan ia menikah dengan wanita yang sangat bergairah, maka ia akan melayani keinginan istrinya dengan rasa terpaksa dan enggan sekali. Jadi, koitus yang dilakukan tanpa kesediaan sepenuh hati, jelas tidak akan mencapai tujuannya.

Berminat koitus tetapi tidak selalu mampu ereksi bila diinginkan:

Pria ini cukup berminat koitus, tetapi apabila tiba saatnya untuk melaksanakannya, ia gagal untuk ereksi. Pada dasarnya, jenis keluhan ini terjadi pada pria yang diliputi kecemasan terhadap “melukai” diri dalam koitus.

Ereksi yang kurang sempurna (lembek):

Pria ini secara sadar mengetahui bahwa dirinya harus memberikan kepuasan pada partnernya, tetapi ia kurang mampu mencapai ereksi yang keras. Ereksi memang terjadi, tetapi tidak cukup kuat untuk menembus vagina atau apabila berhasil maka gerakan-gerakannya kurang kuat untuk memberikan kenikmatan. Keengganan berhubungan intim dengan partnernya secara tidak sadar berpengaruh pada keluhan jenis ini.

Ejakulasi prematur:

Keluhan ini paling banyak ditemukan dalam praktek psikologi. Pria merasa rendah diri. Keluhan ini dapat dibedakan menjadi ejakulasi yang terjadi sebelum koitus dan ejakulasi yang terjadi simultan dengan insersi atau beberapa detik sesudah insersi. Dalam kasus keluhan ejakulasi yang kedua ini partnernya belum sempat mendapatkan stimulasi seksual apalagi untuk mencapai orgasme. Kadang-kadang ejakulasi prematur pada mulanya hanya dianggap sebagai keanehan personal saja. Mereka baru merasakan sebagai kelainan apabila secara kebetulan mendengar, membaca atau mendapatkan informasi dari orang lain.

Impoten total tetapi masih tersisa minat terhadap koitus:

Ada kasus-kasus dimana kemampuan ereksi hilang sama sekali, tetapi mereka masih memiliki minat terhadap wanita dan bahkan terhadap aktivitas heteroseksual. Karena kemampuan ereksi sebagian besar terletak pada faktor psikologis, maka jenis impotensia ini harus dibedakan dengan jenis impotensia total dimana orang yang bersangkutan juga tidak berminat sama sekali terhadap koitus.

Impoten total tanpa minat sedikit pun terhadap koitus:

Pria ini juga memiliki sejumlah hambatan-hambatan lain dari kondisi ini, bersumber pada latar belakang neurotis yang berat, sehingga kasus ini membutuhkan perawatan yang lain karena minat terhadap masalah seksual harus dibina dahulu sebelum meningkat pada masalah yang berkaitan dengan aktivitas seksual yang normal.

Penyebab Impotensi

Faktor psikologis yang berpengaruh terhadap keluhan impotensia antara lain adalah sebagai berikut:

a) Ketakutan yang terkait dengan kemungkinan melukai diri pada saat relasi seksual terjadi
b) Kurangnya kedekatan emosi dengan pasangan seksual;
c) Kemungkinan terdapat kecenderungan homoseksual laten atau memang penderita adalah seorang homoseksual.
d) Kebencian terhadap partner misalnya: Pria benci terhadap wanita dan peranannya sehingga ia menolak untuk memberikan kepuasan pada wanita. Rasa dendam terhadap lawan jenis dengan dorongan untuk menyakiti partnernya.

Konflik cinta yang timbul dengan tidak disadari, misalnya:

1) Seorang pria yang mencintai wanita lain dan tidak menyadarinya, dan tidak menerima relasi seksual pasangannya.
2) Laten homoseksual, lebih tertarik pada jenis kelamin yang sama dibandingkan pada jenis kelamin lain.
3) Narsistik, cinta terhadap orang lain merupakari luapan cinta terhadap dirinya sendiri. Dalam kasus ini tidak tersisa cinta terhadap partner seksualnya.

http://www.indomp3z.us/showthread.php?t=56675

Tidak ada komentar:

Posting Komentar